Bucin

4:36 PM

"Selir hatimu
untuk selamanya...
wooow 
aku rela kurelaaa"


Bisakah kita mencintai tanpa ber ekspetasi? Menyayangi tanpa kata "tapi". Kenyataannya, malah sibuk menjadi ekspetasi, sibuk mengejar kata "tapi". Setahuku, semua harus apa adanya, saling memiliki kekurangan dan saling menutupi kekurangan, saling berjalan beriringan walau tak slalu pengertian. Sampai detik ini cara pandangku tentang hal ini berubah, semua ini tidak geratis, slalu harus mengejar ekspetasi. Suramnya aku, harus hidup menjadi ekspetasi orang lain. Jadi, Bisakah kita mencintai tanpa ber ekspetasi? Kata anak arsitek yang ku kenal,

"Agak sulit, tapi bisaa, justru ketika kita sudah mencapai sebuah makna hakikat cinta yang sebenernya ekspektasi itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan untuk saling menguatkan dan berbuah menjadi doa kepada Sang Maha Pemilik Cinta"

Untuk saling menguatkan, tapi disini terasa seperti terkikis perlahan. Menjadi budak dari ekspetasi, tidak di bayar oleh peminta "tapi", slalu terbanding dengan ekspetasi. Bagaimana bisa mencapai makna hakikat sebenarnya, kalau sudah habis terkikis di tengah jalan. Terus apa bedanya sekarang dengan tanpa kebebasan, melangkah saja harus di arahkan. Menjadi sosok "tapi" tapi tidak di perhatikan. Selalu harus menjadi hitam, walau tidak benar benar hitam. Untuk apa menjadi tapi, kalau hanya menjadi pemuas dendam. Pelampiasan.

"Lalu, apa yang kau cari kawan?" kata diriku untuk ku

You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook